Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Harapan dan Nasib Anak Kampung Pedalaman


Aripin Ritonga - Setiap makluk diciptakan sesungguh sama bagi Allah yang membedakan adalah ketaqwaan masing-masing insan tersebut, hanya saja kenyataannya hanya orang kampunglah jadi bahan lelucon tertawaan ketika berkumpul gabung baik di organisasi, sekolah, pertemuan-pertemuan, dll. Saya sangat merasakan itu sejak keluar memberanikan diri merantau kerantau orang.

Berkumpul hanya untuk menemukan titik  internet 3G

Mulai dari cara kita bicara, berjalan, penampilan bahkan seluruh tubuh seolah2 menjadi sorotan mereka dengan seenaknya kita dipermalukan dengan ejekan-ejekan. Siapa sih yang suka memilih terlahir di kampung, keluarga seadanya alias orang yang tak bercukupan.? Tentu tidak ada, semua itu sudah menjadi takdir Allah.

Lahir bukanlah pilihan, tampang juga bukan pilihan tidak sepantasnya kita sesama ummat menilai menjudge seseorang hanya karena dia orang kampung, ndeso, jelek rupa, miskin dan apapun alasannya.
Saya orang kampung yang lahir dipedalaman desa tepatnya nama awal desanya sihatubang sekarang diganti menjadi desa sihalo-halo kecamatan sebelum pemekaran sipiongot saat ini kecamatan dolok sigompulon kabupaten tapanuli selatan (tapsel) awalnya menjadi kabupaten padang lawas utara (paluta) provinsi sumatera utara negara indonesia.

Desa sihalo-halo tempat lahir saya yang harus saya cintai dan sayangi walaupun bukan keinginan lahir di desa tersebut, anak-anak desa sihalo-halo salah satu desa menjadi korban tertatawaan/buli-an ketika ada yang memberanikan keluar mengadu nasib sekolah ke desa, kampung kota lain. Dimana tidak di desa tersebut masih kental memakai bahasa logat daerah bahasa sehari-harinya adalah bahasa tapsel yang biasa disebut bahasa kampung.

Bahkan sampai saat ini bulan april tahun 2019 masih ada warganya yang sudah tua-tua (ibu2/bapak/nenek2/kakek2) yang tak dapat bicara dengan bahasa indonesia tidak mengerti bahasa indonesia, setiap saya pulang kampung ke desa kelahiranku sering air mata ini menetes begitu melihat keadaan desanya. Indonesia sudah merdeka 73 tahun pergantian presiden sudah delapan kali tapi ternyata cita-cita bangsa belum juga dicapai.

Pemerintah hingga daerah selalu mengatakan dasar mereka memimpin menjalankan roda pemerintahan berdasarkan pancasila dan UUD 1945, tapi buktinya apa? Sila pertama pancasila ‘ketuhanan yang mahasa esa, kedua ‘kemanusiaan yang adil dan beradab’ ketiga ‘persatuan indonesia’ ke empat ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan perwakilan’ ke lima ‘ke adilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Saya merasa hingga saat ini isi pancasila yang menjadi dasar negara indonesia NKRI harga mati belum seutuhnya diamalkan dilaksanakan dijalankan dalam pemerintahan sampai sekarang ini april tahun 2019. Desa sihalo-halo kecamatan dolok sigompulon kabupaten padang lawas utara ini bagian dari pada indonesia, tapi apa yang sudah diperbuat jika landasanya pancasia dan UUD 1945.?

Luas wilayah hanya beberapa hektar, jumlah penduduknya yang tak seberapa (sekitar 45 KK) tapi tidak bisa ditolong dengan keadilan bagi seluruh rakyat indonesia, ini sudah april tahun 2019 bung, perusahaan listrik negara (PLN) kemana saja kenapa tidak di aliri kedesa kelahiran kami? Sinyal hp katanya telkom milik badan usaha milik negara (BUMN) ngapain? Kenapa kami harus manjat pohon mendaki bukit tinggi baru ada ‘sinyal’ bukankah perusahaan tersebut / pemerintah selalu menggembor-gemborkan kualitas bagus jangkauan keseluruh indonesia dengan sinyal generasi ke empat (4-G)? Desa kami tidak merasakan itu.

Dana pendidikan yang katanya 25% dari APBD/APBN menurut saya itu bukan jumlah yang kecil itu sudah pantastis, dimana selama ini dana itu? Dimana-mana ruang kelas untuk SD itu ada 6 kelas ruang belajarnya tapi di desa sihalo-halo tidak merasakan itu. Ruang belajar/kelas yang hingga tahun 2018 hanya ada tiga (3) kelas saja untuk anak sekolah dari Kelas I,II,III,IV,V dan VI. Baru sekitar akhir tahun 2018 ada pembangunan ruang kelas baru (RKB) penambahan tiga kelas dan sampai april tahun 2019 itu belum di operasikan dengan alasan prasarananya (bangku, meja, papan tulis, dll. Belum ada).

Sugguh sedih nasib orang kampung segala sesuatunya yang serba tidak ada, berharap, memohon meminta sudah dilakukan kepada perwakilan rakyat dan pemerintah setempat namun hingga sekarang masih zonk.

Tolong desa kami pak, beri bantuan curahkan anggaran ke desa kami (Desa Sihalo-halo, Dolok Sigompulon, Kab. Padang Lawas Utara) sebagai bukti menjalankan perintahan dengan berpedoman pancasila dan UUD 1945 dan pengamalannya.

Tidak lupa pula terimakasih banyak kami ucapkan talah menyempatkan diri untuk berkunjung menikmati sajian ilmu yang kami posting. Berharap dan memohon hanya kepada Allah agar kiranya kita tetap dalam lindungan, rahmat dan taufiknya. Wassalam J

Posting Komentar untuk "Harapan dan Nasib Anak Kampung Pedalaman"