Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Isi Hatiku Padamu Wahai Istriku



Rabu lima oktober tahun 2016 menjadi sejarah yang besar bagi kita berdua,  keluargaku keluargamu menjadi saksi saat itu. Bahwa belangsungnya acara pernikahan kita tepatnya kurang lebih jam 10 pagi dirumah indahmu rumah yang berbahagia. Saya mengikrarkan syahadat dan berjanji akan menjadi suami terbaik dan membawa keluarga kita berlabuh mengarungi samudera yang luas.


Hatiku bergetar lidah ini kaku akan kalimat menerima mandat dan tugas perpindahan tugas tanggungjawab orang tuamu terhadap dirimu yang sepenuhnya kini akan menjadi tanggungjawabku. Wahai istriku engkau menjadi pilihan idaman terbaiknya diantara berjuta ummat wanita di didunia ini, Betapa ku mencintai mengasihi dan menyayangimu disetiap detak jantungku.

Istriku engkau tidak akan pernah tergantikan wanita manapun,
Engkau begitu sempurna bagiku,
Paras indah wajahmu selalu menbayangiku kemanapun ku melangkah
Yang membuat diriku tenang nyaman bahagia disetiap kebersamaan maupun jarak kita.

Memang harus aku akui begitu besar cobaan yang kita hadapi, masih banyak yang harus aku pelajari dalam membimbing langkah keluarga kita. Belum bisa sesempurna yang engkau ingini, belum bisa memberikan segala kebutuhan hidupmu. Tapi yakinlah wahai istriku aku akan terus berjuang berjanji ingin selalu membahagiakan dirimu.

Maafkan aku wahai istriku tersayang terkadang diri ini berani menyakitimu yang seharusnya tak pantas aku perbuat untukmu. Engkau ditakdirkan mejadi jodoh pasangan halalku menjadi amanah yang harus aku emban dan terkadang menjadi cobaan dalam bunga-bunga kehidupanku.

Hubungan keluarga kita sudah berlangsung menjalani 3 tahun lamanya pahit manis telah kita lalui bersama, badai selalu dan selalu akan menerpa kita akan seperti apa kekuatan hubungan halal ini bertahan dan terus berjuang. Tolong menolong saling mengingatkan dalam kebaikan menjadi salah satu penopang dalam membangun hubungan keluarga.

Saya berharap dan bedo’a wahai istriku sayang sabar dan terus bersabarlah menghadapiku ketika aku keluar dari jalan kebenaran itu, saya tak ingin ada perpisahan diantara kita hingga benar-benar ajal yang menjemput.

Anak kita sudah satu bernama Muhammad Alfatih Ritonga lahir pada hari rabu 8 Agustus tahun 2017 menjadi penenang dan obat dikala kita merasa gelisah dan galau, dan sebentar lagi beberapa bulan kedepan anak kita akan bertambah sayang akan melahirkan anak yang kedua, Yang harapan dan do’a kita semoga nanti sayang melahirkan normal dan lancar.

Ya Allah sehatkan terus istri, anak dan calon anakku,
Beri kami kelancaran dan solusi terbaikmu,
Engkau maha segalanya ya Allah,

Tempat kami bergantung memohon dan meminta ya Allah,
Curahkan limpahkan kepada kami rahmat, hidayah dan taufikmu ya Allah.
Kabulkan segala do’a-do’a kami ya Allah,
Amin... amin... amin... ya Robbal Alamin.

Minggu 28 april tahun 2019 minggu malam senin kesendirian ini menyiksaku karena sayang jauh dikampung sana, seminggu kita berpisah tempat tinggal serasa setahun tak berjumpa, mungkin dengan tulisan ini sedikit mengobati hati yang sedang rindu kepada dirimi sayang wahai istriku tercinta. Aku tau sayang juga pasti rindu dengan diriku yang sedang berjuang mencari nafkah ini.

Insya Allah tiga hari kedapan kita bisa berjumpa akan kujemput sayang akan kubawa kembali kesini, tak kuat diriku berpisah jauh-jauh darimu wahai istri pujaan hatiku sayang. I Love You haholongan cintaku sayang Rahmaini Rambe.

Postingan ini murni isi hati dengan kerinduan kepada kekasih halalku, jika ada hal tidak enak dihati mohon dimaafkan tak ada maksud niat pamer atau hal yang menjerumuskan kejurang kehampaan. Semoga bermanfaat dan terimakasih telah berkung. Wassalam.


2 komentar untuk "Isi Hatiku Padamu Wahai Istriku"

Orang bijak selalu meninggalkan jejak